Dengan Mengucap Syukur Alhmdulillah.. Akhirnya saya berhasil lulus dalam sidang skripsi S1 dan berhak menyandang gelar ST alias Tukang Insiyur. Sebuah perjalanan panjang dan berliku sampai S1 kalau dihitung sekitar 11 tahun dari sejak saya lulus SMU..

Seketika saya ingat Alm Bapak saya tercinta yang keras setengah mati namun asyik, demokratis dan gaul dengan teman-teman anaknya. Bapak yang pensiunan golongan 3-D Direktorat Jendral Pajak Departemen keuangan Repoeblik Indonesia namun tak mampu menguliahkan seorang pun dari ketiga anaknya!!

Ditjend Pajak.. sebuah tempat yang kalo kata orang lahan basah, terlebih sejak kasus Gayus Tambunan muncul di TV-TV.. karyawan Pajak golongan 3A dengan rekening 35 milyard. wah..wah..  kontras sekali dengan kondisi Bapakyang ketika pensiun tinggal di rumah perumnas yang lantai 2 alias gudangnya di tutupi terpal biru pinjaman dari masjid, lantai 1 bocor di depan TV. Dua anak lelakinya nganggur dan 1 anak lelaki terkecilnya bekerja sebagai kuli perusahaan Telekomunikasi gurem.

Belum lagi dengan kondisi kesehatan bapak yang membuatnya bolak-balik RS Fatmawati dengan bermodalkan selembar kartu kuning bernama ASKES, walau harus menerima penderitaan exgtra berjubelan di Deborah, dan antri obat layaknya antri beras di jaman orde lama plus bonus ekstra suster judes.. maknyusss!!!

Mamah sempat bercerita kemarin, sempat bapak merasa menyesal kenapa tidak “seberani” teman-temanya,saat ia hampir putus asa di kemelaratan.. Sempat pula datang kerumah seorang temanya untuk meminta bantuan, yang kemudian membuatnya lemas gemeteran karena gak pernah masuk ke rumah semewah itu, terlebih itu rumah rekan sejawatnya sendiri..

Tapi satu hal, Bapak adalah seorang ayah juara dunia.. ayah yang mewariskan disiplin, semangat dan kerja keras serta jujur dan hati nurani sebagai modal utama.  Beliau bukan orang yang pandai ilmu agama, bukan pula orang yang terlalu cerdas.. tapi beliau adalah orang yang memiliki hati nurani dan membiarkan nuraninya bicara dan menggerakanya.

Semoga Allah mempertemukan kita kembali kelak, dan semoga ia tersenyum melihat kami tetap rukun dan menjaga mamah dengan baik. Untuk kakak-kakaku ingin ku berucap “tunjukan kalau kita bukan anak seorang pecundang.. kita adalah anak seorang Bapak yang hidup dengan prinsipnya, sampai ajal menjemputnya…”

Advertisement